LAPORAN PRAKTIKUM ILMU TANAH

Laporan Praktikum Ilmu Tanah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

 

Nama              :  Endah Trisnawati

NIM                :  H0812053

Kelompok       :  51

Co – Ass          :  Aprilia Roselani

 

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

HALAMAN PENGESAHAN

 

 

 

Laporan Praktikum Dasar – Dasar Ilmu Tanah ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Dasar – Dasar Ilmu Tanah, dan telah diketahui serta disahkan oleh Asisten dan dosen pengampu Praktikum Ilmu Tanah pada     Desember 2012.

 

 

 

Disusun oleh :

Nama            :  Endah Trisnawati

NIM             :  H0812053

Kelompok    :  51

 

 

 

Mengetahui,

 

 

               Dosen Pengampu                                                     Co-Assisten

          Dasar-Dasar Ilmu Tanah                       

                                                                          

                                    

Dwi Priyo Ariyanto, S.P., M. Sc                               Aprilia Roselani

NIP. 19790115 200501 1 001                                               NIM. H0711015

                                                            

 

 

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Praktikum Ilmu Tanah ini dengan tepat waktu.

Laporan Praktikum Ilmu Tanah ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Praktikum Ilmu Tanah dan untuk membuktikan teori – teori yang diperoleh dari mata kuliah tersebut. Penulis merasa bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, laporan ini tidak dapat terselesaikan tepat waktu. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis bermaksud menyampaikan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada:

1.    Para Co-Ass yang telah membantu penulis baik dalam praktikum ataupun di luar praktikum.

2.    Kedua orang tua penulis yang telah membantu baik secara material maupun spriritual.

3.    Rekan–rekan yang telah membantu penulis sehingga laporan ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa pelaksanaan penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis masih mengharapkan kesediaan dari berbagai pihak untuk memberikan saran dan kritik yang bersifat membangun.

Terakhir penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan baik untuk penulis khususnya maupun pembaca umumnya. Atas kerjasamanya diucapkan terima kasih.

 

Surakarta,    Desember 2012

 

 

 

Penyusun


 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………..    i      

HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………………………. ii

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………. iii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………….. iv

DAFTAR TABEL………………………………………………………………………………    vi

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………………… vii

1.   PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang ………………………………………………………………………….   1

B.     Tujuan Praktikum……………………………………………………………………….   2

C.     Waktu dan Tempat Praktikum……………………………………………………..   2

II.   TINJAUAN PUSTAKA

A.    Pencandraan Bentang Lahan………………………………………………………… 3

B.     Ordo Tanah………………………………………………………………………………… 4

C.     Sifat Fisika Tanah……………………………………………………………………….. 6

D.    Sifat Kimia Tanah……………………………………………………………………….. 8

E.     Analisis Lengas Tanah………………………………………………………………..   8

F.      Analisis pH Tanah……………………………………………………………………….. 9

III.  ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA

A.  Pencandraan Bentang Lahan………………………………………………………. 12

B.   Penyidikan Profil dan Pedon Tanah…………………………………………….. 12

C.   Sifat Fisika Tanah……………………………………………………………………… 13

D.  Sifat Kimia Tanah……………………………………………………………………… 15

E.   Analisis Lengas Tanah………………………………………………………………..        16

F.    Analisis pH Tanah……………………………………………………………………… 19

IV. HASIL PENGAMATAN

A. Pencandraan Bentang Lahan……………………………………………………….    21

                                                                                                                           B. Sifat Fisika Tanah                        24

C. Sifat Kimia Tanah……………………………………………………………………….. 25

D. Analisis Lengas Tanah………………………………………………………………..    27

 

V.   PEMBAHASAN

       A. Fakultas Pertanian UNS

1. Pencandraan Bentang Lahan…………………………………………………….. 32

2. Penyidikan Profil Tanah…………………………………………………………… 32

3. Sifat Fisika Tanah……………………………………………………………………. 33

4. Sifat Kimia Tanah……………………………………………………………………. 35

  1. 5.  Analisis Lengas Tanah…………………………………………………………….  36
  2. 6.  Analisis Ph Tanah ………………………………………………………………….. 36

       B. Jatikuwung

  1. Pencandraan Bentang Lahan………………………………………………….. 38
  2.  Penyidikan Pedon Tanah………………………………………………………. 38
  3. Sifat Fisika Tanah………………………………………………………………. .. 39
  4.  Sifat Kimia Tanah……………………………………………………………….. 39
  5. Analisis Lengas Tanah…………………………………………………………… 40
  6. Analisis Ph Tanah…………………………………………………………………. 40

       C. Jumantono

  1.  Pencandraan Bentang Lahan…………………………………………………. 43
  2. Penyidikan Profil Tanah…………………………………………………………. 43
  3.  Sifat Fisika Tanah………………………………………………………………… 44  
  4. Sifat Kimia Tanah…………………………………………………………………. 45
  5. Analisis Lengas Tanah…………………………………………………………… 46
  6. Analisis Ph Tanah …………………………………………………………………. 46

VI.    KOMPREHENSIF

          Komprehensif……………………………………………………………………………….. 47

VII.   KESIMPULAN

                                                                                                                           A. Fakultas Pertanian UNS              50

                                                                                                                           B. Jatikuwung                      50

                                                                                                                           C. Jumantono                       51       

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………….. 52

LAMPIRAN

 

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1.1 Pencandraan Bentang Lahan…………………………………………………… 21

Tabel 4.1.2 Sifat Fisika Tanah………………………………………………………………….. 25

Tabel 4.1.3 Sifat Kimia Tanah…………………………………………………………………. 26

Tabel 4.1.4 Analisis Lengas Tanah……………………………………………………………. 28


 

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Denah Lokasi di Kampus FP UNS…………………………………………. 23

Gambar 4.2 Foto profil di Kampus FP UNS……………………………………………… 23

Gambar 4.3 Denah Lokasi di Jatikuwung………………………………………………….. 23

Gambar 4.4 Foto profil di Jatikuwung………………………………………………………. 24

Gambar 4.5 Denah Lokasi di  Jumantono………………………………………………….. 24

Gambar 4.6 Foto profil di Jumantono……………………………………………………….. 24

 

 

  1. A.      Latar Belakang

Segala kepentingan hidup di dunia tidak terlepas dari keperluan kita akan tanah. Tanah berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan di dunia, termasuk kehidupan manusia dan berbagai kehidupan yang menunjang hidupnya manusia. Oleh sebab itu tanah merupakan salah satu komponen alam yang mempunyai peran penting dalam proses kehidupan.

Tanah adalah sistem lapisan kerak bumi yang tidak padu dengan ketebalan beragam yang berbeda yang terdiri dari butiran kerikil kasar, pasir, tanah lempung, tanah liat dan semua bahan lepas lainnya termasuk lapisan tanah paling atas sampai pada tanah keras. Ada 5 faktor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah, yaitu : iklim, makhluk hidup, bentuk wilayah, bahan induk dan waktu. Iklim dan makhluk hidup merupakan faktor pembentuk tanah yang bersifat aktif, sedangkan bentuk wilayah, bahan induk, dan waktu merupakan faktor pembentuk tanah yang bersifat pasif.

Jenis-jenis tanah mempunyai sifat dan karakteristik yang berbeda. Sifat dan karakteristik tanah dapat berupa sifat fisika, sifat kimia, dan sifat biologi tanah yang dapat diamati pada bagian terkecil tanah. Pedon adalah satuan individu terkecil tanah yang terbentuk dalam tiga dimensi. Pada bagian pedon dapat diamati lapisan-lapisan tanah yang terdiri dari solum tanah dan bahan induk tanah yang disebut dengan profil tanah.

1

Tanah dapat bermanfaat bagi manusia jika manusia dapat memeliharanya dengan baik. Namun tanah akan menjadi tidak bermanfaat bagi manusia, bahkan sering menimbulkan ketidaktentraman jika manusia memperlakukannya tidak baik dengan memberikan tindakan dan perlakuan  yang keliru.

 

 

  1. B.       Tujuan Praktikum

Praktikum dasar-dasar ilmu tanah ini bertujuan untuk :

  1. Mengenal dan mengetahui morfologi suatu lahan
  2. Mengenal dan mengetahui profil tanah
  3. Menganalisa sifat fisika dan kimia tanah
    1. C.      Waktu dan Tempat Praktikum

1. Lokasi Praktikum 1

Hari      : Sabtu, 13 Oktober 2012

Waktu  : 07.00-09.00 WIB

Tempat : Jatikuwung

2. Lokasi Praktikum 2

Hari      : Sabtu, 13 Oktober 2012

Waktu  : 13.00-15.00 WIB

Tempat : Fakultas Pertanian UNS

3. Lokasi Praktikum 3

Hari      : Minggu, 14 Oktober 2012

Waktu  : 08.30-11.30 WIB

Tempat : Jumantono

  1. Lokasi Praktikum 4

Hari     : Rabu, 08 Novenber 2012

Waktu  : 06.30-12.00 WIB

Tempat : Laboratotium Tanah Fakultas Pertanian UNS


 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.      Pencandraan Bentang Lahan

Marbut (2002) beranggapan bahwa tanah merupakan suatu sistem lapisan kerak bumi yang tidak padu dengan ketebalan beragam berbeda dengan bahan-bahan dibawahnya, yang juga tidak baku dalam hal warna, bangunan fisik, struktur, susunan kimiawi, sifat biologi, proses kimia ataupun reaksi-reaksi.

Erosi adalah pengikisan/kelonggaran atau merupakan proses penghanyutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan air dan angin, baik yang berlangsung secara alamiah atau sebagai akibat tindakan atau perbuatan manusia. Sehubungan dengan itu, maka kita akan mengenal normal atau geologikal erosion dan acceleration erosion (Kartosapoetro 2001).

Tanah adalah benda alami yang terdapat di permukaan bumi yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil alam tanaman dan hewan, yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat tertentu akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak sebagai atau terhadap batuan induk dalam keadaan wilayah tertentu selama jangka waktu tertentu    (   2007).

  1. B.       Ordo Tanah
    1. Entisols

Entisol merupakan tanah yang baru berkembang. Walaupun demikian tanah ini tidak hanya berupa bahan asal atau bahan induk tanah saja tetapi harus sudah terjadi proses pembentukan tanah yang menghasilkan epipedon okhrik. Pada Entisol mungkin juga ditemukan epipedon anthropik, horizon albik dan agrik.akumulasi garam, besi oksida dan lain-lain mungkin ditemukan tapi pada kedalaman lebih dari 1 meter (Ikhwan 2011).

3

Entisol mempunyai kejenuhan basa yang bervariasi, pH dari asam, netral sampai alkalin, KTK  juga bervariasi baik untuk horison A maupun C, mempunyai nisbah C/N < 20% di mana tanah yang mempunyai tekstur kasar berkadar bahan organik dan nitrogen lebih rendah dibandingkan dengan tanah yang bertekstur lebih halus. Hal ini disebabkan oleh kadar air yang lebih rendah dan kemungkinan oksidasi yang lebih baik dalam tanah yang bertekstur kasar juga penambahan alamiah dari sisa bahan organik kurang daripada tanah yang lebih halus. Meskipun tidak ada pencucian hara tanaman dan relatip subur, untuk mendapatkan hasil tanaman yang tinggi biasanya membutuhkan pupuk N, P dan K (Munir 2001).

Tanah Entisol merupakan tanah yang relatif kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman, sehingga perlu upaya untuk meningkatkan produktivitasnya dengan jalan pemupukan. Sistem pertanian konvensional selama ini menggunakan pupuk kimia dan pestisida yang makin tinggi takarannya. Peningkatan takaran ini menyebabkan terakumulasinya hara yang berasal dari pupuk/pestisida di perairan maupun air tanah, sehingga mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan(   2010).

 Proses pedogenesis belum menghasilkan pembentukan horison diagnostik apaun kecuali epipedon okrik. Dengan demikian dalam klasifikasi menurut taksonomi tanah USDA, tanah di lokasi penelitian  samas termasuk Entisol (Soil Survey Staff 2000).

Permasalahan yang dihadapi dalam pemanfaatan bahan organik adalah dibutuhkan dalam jumlah yang besar, kandungan unsur hara tidak seimbang karena berasal dari alam, dan dekomposisinya. Laju dekomposisi bahan organik ditentukan oleh faktor dakhil bahan organiknya sendiri dan faktor luar atau faktor lingkungan (Notohadiprawiro 2000).

  1. Vertisols

Tanah Vertisol memiliki kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang tinggi. Reaksi tanah bervariasi dari asam lemah hingga alkaline lemah; nilai pH antara 6,0 sampai 8,0. pH tinggi (8,0-9,0) terjadi pada Vertisol dengan ESP yang tinggi. Vertisol menggambarkan penyebaran tanah-tanah dengan tekstur liat dan mempunyai warna gelap, pH yang relatif tinggi serta kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang juga relatif tinggi. Vertisol tersebar luas pada daratan dengan iklim tropis dan subtropis(   2010).

Cara pengendalian tanah vertisol dapat dilakukan dengan cara pemupukan secukupnya hanya untuk unsur hara yang kurang kebanyakan unsur P sebagai pembatas. Adanya pemanfaatan irigasi yang baik. Melakukan pengolahan tanah agar membuat tanah tetap jenuh. Dalam mengatasi kembang mengkerutnya tanah vertisol yaitu dengan memperbanyak bahan organik seperi kompos dan pupuk kandang. (   2007).

Sifat fisik tanah mengembang pada musim kemarau dan mengkerut pada musim hujan. Jika kering tanah mengembang sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Pengembangan tanah menyebabkan tanah mudah terdispersi dan pori-pori tanah tersumbat, sehingga permeabilitas tanah menjadi rendah. Jika basah mengkerut dan lengket (Notohadiprawiro 2000)

Dalam menilai potensi vertisol untuk pertanian hendaknya diketahui bahwa hubungan pH dengan Al teraktrasi berbeda dengan ordo lainnya. pH dapat tukar nampaknya lebih tepat digunakan dalam menentukan nilai pH vertisol masam dibanding dengan kelompok masam dari ordo-ordo lainya. Perbedaan tersebut akan mempunyai implikasi dalam penggunaan tanah ini untuk pertumbuhan (Munir 2001).

Lebih lanjut dikatakannya bahwa ketika basah tanah menjadi sangat lekat dan plastis, tetapi kedap air. Namun, saat kering tanah menjadi sangat keras dan masif, atau membentuk pola prisma yang terpisahkan oleh rekahan. Dalam perkembangan klasifikasi ordo vertisol, Ph tanah dan pengaruh tidak cukup mendapat perhatian (Dharmawijaya 2000).

  1. Alfisols

Alfisols adalah tanah produktif dengan cakrawala argilik atau natric (lempung silikat atau tanah liat silikat dengan akumulasi natrium lebih dari 15%). Sedang untuk kation jumlah tinggi dasar. Lebih lapuk daripada Inseptisols tetapi kurang dari Spodosols (   2005).

Alfisol secara potensial termasuk tanah yang subur, meskipun bahaya erosi perlu mendapat perhatian. Untuk peningkatan produksi masih diperlukan usaha-usaha intensifikasi antara lain pemupukan dan pemeliharaan tanah serta tanaman yang sebaik – baiknya (Rujiter 2008).

Proses pelapukan adalah berubahnya bahan penyusun tanah dari bahan pemyusun batuan. Sedangkan proses perkembangan tanah adalah terbentuknya lapisan tanah yang menjadi ciri, sifat dan kemampuan khas masing-masing jenis tanah. Proses pelapukan mengandung arti geologis destruktif dan proses perkembangan tanah mengandung arti pedologis kreatif. Contoh proses pelapukan adalah hancuran batuan secara fisik dan proses berubahnya felspat menjadi lempung kimia. Contoh proses perkembangan tanah adalah terbentuknya horison tanah, latosolisasi, podsolisasi, dan lainnya (Darmawijaya 2000).

Tanah alfisol cukup produktif untuk pengembangan berbagai komoditas tanaman pertanian mulai tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Tingkat kesuburannya (secara kimiawi) tergolong baik. pH-nya rata-rata mendekati netral. Di seluruh dunia diperkirakan Alfisol penyebarannya meliputi 10% daratan (Herlina 2011).

Tanah yang termasuk ordo Alfisol merupakan tanah-tanah yang terdapat penimbunan liat di horison bawah (terdapat horison argilik)dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari 35% pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah. Liat yang tertimbun di horison bawah ini berasal dari horison di atasnya dan tercuci kebawah bersama dengan gerakan air. Padanan dengan sistem klasifikasi yang lama adalah termasuk tanah Mediteran Merah Kuning, Latosol, kadang-kadang juga Podzolik Merah Kuning (Abdullah 2003).

  1. C.      Sifat-Sifat Fisik Tanah

Sifat fisika tanah adalah sifat yang bertanggung jawab atasperedaran udara, panas, air, dan zat terlarut melalui tanah. Beberapa sifat fisika dapat mengalami penggarapan tanah. Sifat fisika tanah yang terpenting adalah tekstur tanah, struktur tanah, komposisi mineral, porositas, stabilitas, konsistensi,warna maupun suhu tanah. Sifat tanah berperan dalam aktivitas perakaran tanaman, baik dalam hal absorbsi unsur hara, air maupun oksigen juga sebagai pembatas gerakan akar tanaman. (Hakim et al. 2003)

Suhu yang terlalu tinggi ataupun yang terlalu rendah merupakan faktor pembatas dibeberapa daerah tropika tertentu. Pemecahannya biasanya adalah dengan memberi mulsa dengan berbagai bahan, tergantung apakah suhu itu harus dinaikkan atau ditunkan. Pada tanah yang baru dibuka untuk pertanian, pengaturan suhu tanah dengan menggunakan mulsa jerami. Sebenarnya pemulsaan juga mengurangi pemakaian air dan mengurangi kebutuhan untuk pengendalian gulma dan sering meningkatkan hasil (Sanchez 2002).

Tekstur tanah adalah perbandingan relatif (dalam persen) antara fraksi pasir, debu dan liat.Tekstur tanah sangat penting kita ketahui karena komposisi ketiga fraksi penyusun tanah menentukan sifat-sifat fisika,fisikokimia dan sifat kimia tanah.Berdasarkan atas perbandingan banyaknya butir-butir pasir, debu dan liat maka tanah dikelompokkan ke dalam beberapa macam kelas tekstur ( 2010).

Makin padat suatu tanah, merupakan tanah yang lebih baik. Misalnya pasir padat. Selain camouran dariclay dan slit, tanah dapat pula bercampur dengan bahan organik yang berpengaruh jelek terhadap tanah untuk pembangunan namun akan bagi bagi tanaman (Suradji 2009).

Struktur dapat memodifikasi pengaruh tekstur dalam hubungannya dengan kelembaban, porositas, tersedianya hara, kegiatan jasad hidup dan pertumbuhan akar tanaman. Struktur tanah merupakan gumpulan kecil dari butir-butir tanah, gumpalan kecil ini mempunyai bentuk, ukuran dan kemantapan (ketahanan) yang berbeda-beda ( 2010).

 

 

  1. D.      Sifat-Sifat Kimia Tanah

Akibat rendahnya daya pelulusan air pada sistem pelindian maka hanya sebagian saja hasil degradasi dari pirit (sulfida) yang mampu terlindi. Air lindian dari pelindian dengan air laut (P2) lebih masam  (pelindian ke 8) Ph 4,62 dibandingkan pelindian air tawar (P1)-Ph 4,99 (Maas 2001).

Kemampuan tanah menyediakan hara dalam jumlah yang cukup dan komposisis yang ideal merupakan faktor penting dalam budidaya tanaman. Oleh karena itu pada tanah-tanah yang mengalami kendala penyediaan hara, perlu dilakukan manipulasi lingkungan tumbuh tanaman untuk memperbaiki sifat kimia tanah tersebut (Masganti 2005).

Perubahan sifat kimia menyebabkan ketersediaan hara dalam tanah menjadi lebih baik atau berada dalam kategori sedang. Keadaan ini diharapkan memberikan pengaruh yang positif bagi pertumbuhan tanaman (Puslittanak 2000).

Perbaikan sifat kimia tanah memberikan petunjuk bahwa jenis dan dosis pupuk yang diberikan dapat menjamin pasokan dan ketersediaan hara bagi tanaman (Masganti et al. 2005).

Pengendalian gulma selain menyebabkan perbaikan terhadap sifat kimia juga meningkatkan Kadar C organik dalam tanah karena hara pada tanah yang bertopografi bergelombang berkurang akibat terbawa aliran permukaan dan erosi (Sutono et al. 2005).

  1. E.       Analisis Lengas Tanah

Banyak lengas yang dipegang oleh tanah pada tegangan rendah tergantung pada efek/prinsip kapilaritas dan agihan ukuran pori yang dipengaruhi oleh struktur tanah, sebaliknya pada tegangan tinggi disebabkan oleh luas permukaan spesifik tanah yang dipengaruhi oleh tekstur tanah (Santoso 2005).

Lengas tanah adalah air yang terikat oleh berbagai gaya, misalnya gaya ikat matrik, osmosis dan kapiler. Gaya ikat matrik berasal dari tarikan antar partikel tanah dan meningkat sesuai dengan peningkatan permukaan jenis partikel tanah dan kerapatan muatan elektrostatik partikel tanah. Gaya osmosis dipengaruhi oleh zat terlarut dalam air maka meningkat dengan semakin pekatnya larutan. Gaya kapiler dibangkitkan oleh pori‐pori tanah berkaitan dengan tegangan permukaan (  2010).

Kadar lengas tanah sering disebut sebagai kandungan air(moisture) yang terdapat dalam pori tanah. Satuan untuk menyatakan kadar lengas tanah dapat berupa persen berat atau persen volume. Berkaitan dengan istilah air dalam tanah, secara umum dikenal 3 jenis, yaitu (a) lengas tanah (soil moisture) adalah air dalam bentuk campuran gas (uap air) dan cairan; (b) air tanah(soil water) yaitu air dalam bentuk cair dalam tanah, sampai lapisan kedap air, (c) air tanah dalam (ground water) yaitu lapisan air tanah kontinu yang berada ditanah bagian dalam (Handayani 2009).

Keberadaan lengas tanah dipengaruhi oleh energi pengikat spesifik yang berhubungan dengan tekanan air. Status energi bebas (tekanan) lengas tanah dipengaruhi oleh perilaku dan keberadaannya oleh tanaman. Lengas tanah dipengaruhi oleh keberadaan gravitasi dan tekanan osmosis apabila tanah dilakukan pemupukan dengan konsentrasi tinggi (Bridges 2001).

Di dalam tanah, air berada di dalam ruang pori diantara padatan tanah. Jika tanah dalam keadaan jenuh air, semua ruang pori tanah terisi air. Dalam keadaan ini jumlah tanah yang disimpan didalam tanah merupakan jumlah air maksimum disebut kapasitas penyimpanan air maksimum. Selanjutnya jika tanah dibiarkan mengalami pengeringan, sebagian ruang pori akan terisi udara dan sebagian lainnya terisi air. Dalam keadaan ini tanah dikatakan tidak jenuh (Hillel 2000).

  1. F.       Analisis pH Tanah

pH tanah atau kemasaman tanah atau reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H +) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain ion H+ dan ion-ion lain terdapat juga ion hidroksida (OH-), yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya ion H+. Pada tanah-tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi dibandingakan dengan jumlah ion OH-, sedangkan pada tanah alkalis kandungan ion OH- lebih banyak dari ion H+. Jika ion H+ dan ion OH- sama banyak di dalam tanah atau seimbang, maka tanah bereaksi netral (  2011).

Reaksi tanah adalah derajat kesaman tanah yang terdapat di larutan tanah Tinggi rendahnya reaksi tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor pembentuk tanah.Selain itu,kedaan musim,tindakan cocok tanam ,tempat pengambilan contoh,dan cara pengukuran tanah akan mempengaruhi nilai pH tanah (Ahmat 2006).

pH tanah atau tepatnya pH larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung unsur hara seperti Nitrogen (N), Potassium/kalium (K), dan Pospor (P) dimana tanaman membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang, dan bertahan terhadap penyakit. Jika pH larutan tanah meningkat hingga di atas 5,5; Nitrogen (dalam bentuk nitrat) menjadi tersedia bagi tanaman. Di sisi lain Pospor akan tersedia bagi tanaman pada Ph antara 6,0 hingga 7,0. Beberapa bakteri membantu tanaman mendapatkan N dengan mengubah N di atmosfer menjadi bentuk N yang dapat digunakan oleh tanaman. Bakteri ini hidup di dalam nodule akar tanaman legume (seperti alfalfa dan kedelai) dan berfungsi secara baik bilamana tanaman dimana bakteri tersebut hidup tumbuh pada tanah dengan kisaran pH yang sesuai (   2007).

Tingkat pH tanah yang merugikan pertumbuhan tanaman dapat terjadi secara alami di beberapa wilayah, dan secara non alami terjadi dengan adanya hujan asam dan kontaminasi tanah. Peran pH tanah adalah untuk mengendalikan ketersedian nutrisi bagi vegetasi yang tumbuh di atasnya. Makronutrien (kalsium, fosfor, nitrogen, kalium, magnesium, sulfur) tersedia cukup bagi tanaman jika berada pada tanah dengan pH netral atau sedikit beralkalin. Kalsium, magnesium, dan kalium biasanya tersedia bagi tanaman dengan cara pertukaran kation dengan material organik tanah dan partikel tanah liat. Ketika keasaman tanah meningkat, ketersediaan kation untuk material organik tanah dan partikel tanah liat segera tercukupi sehingga tidak ada pertukaran kation dan nutrisi bagi tanaman berkurang. Namun semua itu tidak dapat disimplifikasi karena banyak faktor yang memengaruhi hubungan pH dengan ketersediaan nutrisi, diantaranya tipe tanah (tanah asam sulfat, tanah basa, dsb), kelembaban tanah, dan faktor meteorologika           (Abdullah 2003).

Ada 2 metode yang paling umum digunakan untuk pengukuran pH tanah yaitu kertas lakmus dan pH meter. Kertas lakmus sering di gunakan di lapangan untuk mempercepat pengukuran pH. Penggunaan metode ini di perlukan keahlian pengalaman untuk menghindari kesalahan. Lebih akurat dan secara luas di gunakan adalah penggunaan pH meter, yang sangat banyak di gunakan di laboratorium. Walaupun pH tanah merupakan indikator tunggal yang sangat baik untuk kemasaman tanah, tetapi nilai pH tidak bisa menunjukkan berapa kebutuhan kapur. Kebutuhan kapur merupakan jumlah kapur pertanian yang dibutuhkan untuk mempertahankan variasi pH yang di inginkan untuk sistem pertanian yang digunakan. Kebutuhan kapur tanah tidak hanya berhubungan dengan pH tanah saja, tetapi juga berhubungan dengan kemampuan menyangga tanah atau kapasitas tukar kation (KTK) (Susanto 2002).

 

 

 

                              III. ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA      

  1. A.    Pencandraan Bentang Lahan
    1. Alat
      1. Klinometer.
      2. GPS
      3. Bahan
        1. Tanah daerah Jatikuwung
        2. Tanah daerah Fakultas Pertanian UNS
        3. Tanah daerah Jumantono
        4. Cara Kerja
          1. Menentukan lokasi pengamatan
          2. Menentukan keadaan lingkungannya
          3. Menentukan derajat kemiringan dengan klinometer
          4. Menentukan bentuk relief lokasi
          5. Menentukan kemas muka tanah
          6. Menentukan bentuk timbulan mikro
          7. Menentukan batuan permukaan yang ada di lokasi
          8. Menentukan batuan singkapan
          9. Menentukan keadaan hidrologi lahan meliputi genangan dan banjir
          10. Menentukan penggunaan lahan
          11. Menentukan bentuk dan tingkat erosi lahan
          12. Menentukan landform
          13. Mencatat hasil pengamatan
            1. B.       Penyidikan Profil dan Pedon Tanah

1. Alat

  1. Meteran lebar 10 cm panjang 150 cm
  2. Kamera
  3. 12

    Tali rafia

  1. Cangkul
  2. Pisau belati

2. Bahan

  1. Tanah Entisol di Fakultas Pertanian UNS
  2. Tanah Vertisol di daerah daerah Jatikuwung
  3. Tanah Alvisol di daerah Jumantono

3..Cara Kerja

  1. Membuat profil tanah di tempat penelitian
  2. Mengukur jeluk mempan atau solum tanah
  3. Menentukan batas-batas lapisan dengan melihat perbedaan warna atau menusuk-nusuk dengan pisau belati atau memukul-mukul dengan gagang pisau belati
  4. Menentukan kelimpahan dan ukuran bebatuan
  5. Menetukan gleisasi
  6. Menentukan ketegasan batas lapisan
  7. Menentukan bentuk batas lapisan
  8. Menentukan jumlah dan ukuran perakaran pada tiap-tiap lapisan
  9. Mencatat hasil pengamatan
  10. C.      Sifat Fisika Tanah
    1. Alat
      1. Buku standar warna Munsell Soil Colour Charts
      2. Kaca pembesar
      3. Pisau belati
      4. Meteran lebar 10 cm panjang 150 cm
      5. Bahan
        1. Air mineral
        2. Tanah dari tiap-tiap lapisan
        3. Cara Kerja

1).   Menentukan tekstur tanah

  1. Mengambil tanah dari tiap-tiap lapisan
  2. Meletakkan pada telapak tangan atau dengan memijit-mijit tanah tersebut di antara jari telunjuk dan ibu jari dengan bantuan sedikit air
  3. Memperhatikan adanya rasa kasar atau licin dan lengket
  4. Menggulung-gulung sambil melihat daya tahan terhadap tekanan
  5. Mencatat hasil pengamatan

2). Menentukan struktur tanah

  1. Mengambil tanah dari tiap-tiap lapisan
  2. Memecahkan atau memisahkan dengan jari
  3. Mengamati tipe, ukuran, dan kemampatan agregat/derajat dengan kaca pembesar
  4. Mencatat hasil pengamatan

3). Menentukan konsistensi tanah

  1. Mengambil tanah dari tiap-tiap lapisan
  2. Memijit tanah dalam berbagai keadaan kandungan air seperti basah, lembab, dan kering di antara ibu jari dan jari telunjuk
  3. Menentukan konsistensinya berdasarkan kekuatan bongkahan
  4. Mencatat hasil pengamatan

4). Menentukan warna tanah

  1. Mengambil gumpalan tanah tiap-tiap lapisan
  2. Menyamakan warna tanah dengan standar warna dari MSCC
  3. Mencatat hasil pengamatan

5). Menentukan aerasi-drainase

  1. Mengambil dua bongkah tanah tiap lapisan
  2. Meletakkan secara terpisah pada kertas tisu
  3. Menetesi kedua bongkah tanah dengan HCl 10%
  4. Melipat kertas saring sehingga menutupi kedua bongkah tersebut kemudian menekan-nekan sampai cairan terperas keluar membasahi kertas saring
  5. Menetesi salah satu bongkah dengan KCNS 10% dan menetesi yang lainnya dengan K3Fe(CN)6 0,5%
  6. Mengamati reaksi yang terjadi
  7. Mencatat hasil pengamatan

6).  Uji Penetrometer

a.       Menusukkan penetrometer pada tanah tiap lapisan secara horisontal dan vertikal

b.      Melihat skala pada penetrometer

c.       Mencatat hasil pengamatan

  1. D.      Sifat Kimia Tanah
    1. Alat
      1. Pipet 10 buah
      2. Spidol
      3. Ph meter
      4. Tissue gulung 2
      5. Flakon 15
      6. Kertas marga
      7. Tas plastik 10
      8. Bahan
        1. HCl 1,2 N
        2. HCl 10%
        3. KCNS 10%
        4. K3Fe(CN)6 0,5%
        5. H2O
        6. KCl 1 N
        7. H2O2 10%
        8. H2O2 3%
        9. Cara Kerja

1). Menentukan pH tanah

a.       Mengambil dua sampel tanah dari tiap lapisan

b.       Memasukkannya ke dalam flakon

c.       Menambahkan H2O pada sampel tanah pertama dari tiap lapisan dan KCl pada sampel tanah kedua dari tiap lapisan

d.      Mengocoknya hingga homogen

e.       Mengukur dengan pH stick

2). Menentukan kadar kapur

a.       Mengambil sampel tanah tiap lapisan

b.      Menetesi dengan HCl 10% secara merata

c.       Mengamati reaksi yang terjadi

d.      Mencatat hasil pengamatan

E.       Analisis Lengas Tanah

1.           Alat

  1. Botol timbang
  2. Oven
  3. Eksikator
  4. Penimbang
  5. Botol semprong
  6. Kain kasa
  7. Statif
  8. Gelas piala
  9. Cawan tembaga yang dasarnya berlubang
  10. Mortir porselin
  11. Saringan ǿ 2mm
  12. Timbangan analitik
  13. Spatel
  14. Gelas arloji
  15. Kertas saring
  16. Petridish
  17.  Colet
  18. Botol pemancar
  19. Cawan penguap
  20. Lempeng kaca
  21. Papan kayu
  22. Bahan
    1. Bongkahan
    2. Contoh tanah kering angin Ø 0,5 mm dan Ø 2 mm
    3. Aquades
    4. Cara Kerja
      1. Lengas Tanah Kering Angin

1)        Botol penimbang dan tutpnya ke dalam oven selama 30 menit kemudian mendinginkannya ke dalam eksikator dan menimbang botol penimbang dengan tutupnya.

2)         Memasukkan contoh tanah kering angin kurang lebih 2/3 tinggi botol penimbang lalu menimbangnya dan masing-masing ctka dilakukan 2 kali ulangan.

3)        Memasukkan ke dalam oven dengan keadaan terbuka bersuhu 105°C selama 4 jam.

4)        Mendinginkan botol penimbang dan isinya pada eksikator dalam keadaan tertutup, kemudian melakukan penimbangan setelah dingin.

5)         Melakukan perhitungan kadar lengas.

  1. Kapasitas Lapang

1)        Membungkus atau menyumbat salah satu ujung botol dengan kain kassa.

2)         Memasukan ctka ke dalam botol semprong dengan bagian yang tertutup kain kassa sebagai dasarnya.

3)        Memasang botol semprong pada statif dan diatur seperlunya.

4)         Merendam selama kurang lebih 48 jam.

5)        Mengangkat semprong dan membiarkan air menetes sampai tetes terakhir.

6)         Mengambil contoh tanahnya yang berada pada 1/3 bagian tengah semprong, mengukur kadar lengasnya sebanyak 2 kali uangan.

  1. Lengas Maksimum

1)        Menggerus ctka menjadi butir primer dan menyaringnya menjadi ø 2mm.

2)        Mengambil cawan berlubang yang dasaarnya diberi kertas saring yang sudah dibasahi.

3)        Menimbang dengan kertas arloji sebagai alasnya.

4)        Memasukan ctka yang telah digerus dalam cawan tembaga kurang lebih 1/3nya lalu diketuk-ketukan, menambahkan ctka sampai 2/3 alu diketuk-ketukan lagi, kemudian menambahkan lagi ctka sampai penuh, mengetuknya lagi dan meratakannya.

5)        Memasukan cawan tersebut ke dalam perendam kemudian diisi air sampai permukaan air mencapai kurang lebih ½ tinggi dinding cawan, perendaman 12 jam (setelah direndam permukaan tanah akan cembung minimal rata/mendatar).

6)        Mengangkat cawan  dan membersihkan sisi luarnya lalu meratakan tanah setinggi cawan dengan diperes secara hati-hati dan menimbangnya dengan diberi alas gelas arloji.

7)        Memasukan ke dalam oven bersuhu 105°C selama 4 jam, lubang pembuangan air pada oven harus terbuka.

8)        Memasukan ke dalam eksilator kemudian menimbang dengan diberi gelas arloji.

9)        Membuang tanah, membersihkan cawan dan kertas saring kemudian menimbangnya dengan diberi alas gelas arloji.

10)    Menghitung kadar lengasnya.

  1. Batas Berubah Warna

1)        Membuat pasta tanh dengan cara mencampur ctka ø 0,5 mm dengan air pada cawan penguap.

2)        Meratakan pasta tanah pada kayu membentuk elip dengan ketinggian pada bagian tengah kurang lebih 3mm dan makin ke tepi  makin tipis.

3)      Membiarkan semalam dan setelah ada beda warna diambil tanahnya selebar 1cm (warna terang dan gelap) untuk dianalisis KL-nya.

  1. F.        Analisis Ph Tanah

1.        Alat

  1. Flakon
  2. Pengaduk kaca
  3. Ph meter
  4. Timbangan
  5. Bahan
    1. Contoh tanah kering angin Ø 0,5 mm sebanyak 10 gram
    2. Reagen H2O ( PH actual )
    3. Reagen KCL (ph potensial)
    4. Cara Kerja
      1. Menimbang ctka sebanyak 5 gram dan memasukan ke dalam dua buah flakon.
      2. Menambahkan aquadest 12,5 cc untuk analisis pH H2O dan 12,5 cc KCl untuk pH KCl.
      3. Mengaduk masing-masing hingga homogen selama 5 m
      4. Mendiamkannya selama 30 menit.
      5. Mengukur masing-masing pH.
  1.                                                                                                                                      IV.           

     

     

    HASIL PENGAMATAN

  1. A.  Pencandraan Bentang Lahan

Tabel 4.1.1 Pencandraan Bentang Lahan

No

Deskripsi

                                        Lokasi

Fakultas Pertanian UNS

Jatikuwung

Jumantono

1.

Letak Lintang

07o 3336,8” LS

110o 51’ 29,9” BT

07o 3184” LS

110o 50’ 720” BT

 

07° 30′ 50,1″ LS dan 110° 56′ 50,1″ BT

2.

Tinggi Tempat

127 m dpl

169 m dpl

188 m dpl

3.

Lereng

Curam 31-60 (5)

Agak miring (2)

Agak miring (2)

4.

Arah Lereng

Barat Laut (BL)

Barat (B)

Barat Laut ( BL)

5.

Panjang Lereng

10 m

85 m

8 m

6.

Cuaca

Cerah/bersih(SU)

Cerah/bersih(SU)

Cerah/bersih (SU)

7.

Fisiografi Lahan

Alluvial (A)

Hasil aktifitas/endapan materi gunung berapi (V)

Miscellaneous (X)

8.

Tutupan Lahan

Tutupan Pohon (T)

Tutupan semak (S)

Tutupan tanaman (C)

9.

Geologi

QAL

QVM

QVL

10.

Genangan

NO

Jarang

NO

11.

Tinggi Genangan

0

0,01 m

0

12.

Durasi Genangan

0

0

0

13.

Erosi

Permukaan/lembar

Alur

Permukaan/lembar

14.

Tingkat Erosi

Rendah

Rendah

Rendah

15.

Batuan Permukaan

20

 

Jumlah 0,1-3% dari luas permukaan; jarak antar batuan kecil sekitar 1 m dan antara batuan besar sekitar 3 m (2)

Jumlah 0,1-3 % dari luas permukaan; jarak antar batuan kecil sekitar 1 m dan antara batuan besar sekitar 3 m

Jumlah <0,1% dari luas permukaan; jarak antar batuan kecil > 8 m dan antar batuan besar sekitar 20 m.(1)

16.

Vegetasi

Tumbuhan jati                    30 %

Pohon asam                        10 %

Pohon mahoni                    50 %

Pohon bodi                           5 %

Pohon lamtoro                      5 %

Pohon jati                  50%

Semak/rumput           25%

Pohon mangga             5%

Pohon lamtoro             5%

Kemangi                      5%

Tanaman berbunga    10%

Jagung                 10%

Singkong             10%

Jati                       30%

Mangga                40%

Rambutan            10%

Sumber : Laporan Sementara

 

Denah Tempat:

  1. Fakultas Pertanian UNS

 

Gambar 4.1 Denah Lokasi Pengamatan di Fakultas Pertanian UNS

 

Gambar 4.2 Foto profil di Fakultas Pertanian UNS

 

  1. Lahan Pengamatan Jatikuwung

 

   Gambar 4.3 Denah Lokasi Pengamatan di Jatikuwung

 

Gambar 4.4 Foto profil di daerah Jatikuwung

 

  1. Lahan Pengamatan Jumantono

 

Gambar 4.5 Denah Lokasi Pengamatan di Jumantono

 

Gambar 4.6 Foto profil di daerah Jumantono


 


  1. B.       Sifat Fisika Tanah

Tabel 4.1.2 Sifat Fisika Tanah

No

Lokasi

Metode Observasi

Horizon

Jeluk

Batas

Topografi

Pengakaran

(ukuran)         (jumlah)

Tekstur Tanah

Struktur

Konsistensi

Penetrasi

     H         V

Warna Tanah

Tipe

Ukuran

Derajat

1.

Fakulas Pertanian

Irisan lereng (BC)

Hor A1

0 –20 cm

Baur (D)

Berombak(W)

Halus

(F)

 

Banyak (3)

 Lempung (C)

Kersai (GR)

Halus (F)

Sedang (2)

Kering lunak

4,0

 

3,5

 

10 YR 3/3 (dark brown)

 

Hor A2

20-35 cm

Berangsur (G)

Berombak(W)

Halus

(F)

 

 

Sedikit (1)

Debu (Si), geluh lempungan (CL)

Kersai (GR)

Sedang (M)

Kuat (3)

Kering sangat keras

4,2

 

10 YR 4/1 (grays brown)

Hor A3

35-50 cm

Berangsur (G)

Berombak(W)

Sedang (M)

 

 

Sedikit (1)

Debu (Si), geluh lempungan (CL)

Lempeng (PL)

Sedang (M)

Kuat (3)

Kering sangat keras sekali

4,5

 

10 YR 3/3 (dark brown)

 

2.

Jatikuwung

Irisan lereng  (BC)

Hor A

0 – 20 cm

Jelas (C)

Tak beraturan (I)

Halus (F)

 

 

Sedikit (1)

Debu (Si), geluh lempungan (CL)

Kersai (GR)

Kasar (C)

Sedang (2)

Keras

3,5

 

 

 

20

10 YR 3/1

Hor C

20– 60 cm

Jelas (C)

Tak beraturan (I)

Tidak ada

 

Tidak ada

Pasir (S)

Kersai (GR)

Halus (F)

Kuat (3)

Sangat keras

4,5

 

2,5 YR 8/3

 

 

 

 

 

3.

 

 

 

 

 

 

Jumantono

 

 

 

 

 

 

 

Lubang besar terbuka atau galian (LP)

Hor A

0 – 12 cm

Berangsur (G)

Berombak (W)

Halus (F)

 

Banyak (3)

Lempung pasiran ( SC)

Gumpal Membulat (SBK)

Sangat halus (VF)

Lemah (1)

Kering lunak

2

 

2

5 YR 3/ 3

Hor B1

12 –43   cm

Baur (D)

Rata (S)

Sangat halus (VF)

 

Biasa (2)

Lempungpasir (SC)

Gumpal Membulat (SBK)

Sangat halus (VF)

Sedang (2)

Kering agak keras

4,5

 

5 YR 3/4

Hor B2

42 –65 cm

Baur (D)

Berombak (W)

Sangat halus (VF)

 

Sedikit (1)

Lempung (C)

Gumpal menyudut (ABK)

Halus (F)

Sedang (2)

Kering agak keras

4,5

 

5 YR 3/3

Hor B3

65-90 cm

Baur (D)

Rata (S)

Sangat halus (VF)

 

 

 

Sedikit (1)

Lempung (C)

Gumpal menyudut (ABK)

Halus (F)

Sedang (2)

Kering agak keras

4,5

 

 

5 YR 3/2

 

 

Hor B4

90-110 cm

Baur (D)

Rata (S)

Sangat halus (VF)

 

 

 

Sedikit (1)

Lempung (C)

Gumpal Membulat (SBK)

Sangat halus (VF)

Sedang (2)

Kering agak keras

4,5

 

 

5 YR 3/3

 

Sumber : Laporan Sementara

C.    Sifat Kimia Tanah

Tabel 4.1.3 Sifat Kimia Tanah

No.

Lokasi

Horison/lapisan

Redoks

pH tanah lapang

pH Tanah Laboraturium

Kadar BO

Kadar Kapur

Konsentrasi

H2O

KCl

H2O

KCl

Jenis

Ukuran

Macam

 

 

1.

 

 

 

 

 

 

 

 

2.

 

Fakultas Pertanian UNS

 

 

 

 

 

 

 

 

Jatikuwung

Hor A1

Baik (O2)

7,31 (Netral)

 

6, 543 (agak masam)

5,755 (masam)

Sedikit

Sangat sedikit

Hor A2

Baik (O2)

7,4 (Agak alkalis)

 

Sedikit

Sangat sedikit

Hor A3

 

 

 

Baik (O2)

7,1 (Netral)

 

6,504 (agak masam)

5,958 (masam)

Banyak

Sedikit

 

Hor A

 

Baik (O2)

7 (Netral)

6,2 (Masam)

6,446 (agak masam)

6,128 (Agak Masam)

Banyak

Sedikit

Hor C

Baik (O2)

7,2 (Netral)

5,8 (Masam)

6,623 (netral)

6,150 (Agak masam)

Tidak ada

Sangat sedikit

3.

Jumantono

Hor A

 

 

 

6,009 (agak masam)

4,801 (masam sangat kuat)

Banyak

Tidak Ada

 

Hor B1

 

 

 

Banyak

Tidak Ada

Konkresi dan Masa

 

Bermangan (Mn)

Hor B2

 

 

 

 

 

5,646 (masam)

 

 

4,805 (masam sangat kuat)

Sedikit

Tidak Ada

Masa

 

Bermangan (Mn)

Hor B3

 

 

 

Sedikit

Tidak Ada

Masa

 

Bermangan (Mn)

Hor B4

 

 

 

banyak

Tidak ada

Masa

 

Bermangan (Mn)

Sumber : Laporan Sementara


 


  1. D.    Analisis Lengas Tanah

Tabel 4.1.4 Anallisis Lengas Tanah

No.

Lokasi

Kadar Lengas Tanah

Kapasitas Lapang

Kadar Lengas Maksimum

Batas Berubah Warna

Ctka 0,5 mm

Ctka 2 mm

1.

Fakultas Pertanian UNS

9,43 %

9,06 %

11,665 %

66,543 %

11,742 %

2.

Jatikuwung

12,354 %

6,763 %

28, 435 %

65,55 %

8,163 %

3.

Jumantono

15,645 %

12,86 %

34, 035 %

40,573 %

18,75 %

Sumber : Laporan Sementara

1.    Fakultas Pertanian UNS

a.    Kadar Lengas Tanah

Rumus : Kadar lengas tanah = (b – c) x 100%

                                                        (c – a)

Kadar lengas tanah ctka 0,5 mm

U1 =  x 100% = 9,28%

U2 =  x 100% = 9,58%

Rata-rata kadar lengas tanah = 9,43 %

Kadar lengas tanah ctka 2 mm

U1 = (69,989 – 68,480) x 100% = 10,39%

          (68,480 – 53,952)

U2 = (75,025 – 73,760) x 100% = 7,73%

          (73,760 – 57,395)

Rata-rata kadar lengas tanah =  9,06%

b.    Kapasitas Lapang

Rumus : Kapasitas Lapang = (b – c) x 100%

                                               (c – a)

Kapasitas lapang

 U1 = (71,560 – 70,028) X 100 %  = 10,01%

           (70,028 – 54,735)

 U2 = (70,168 – 68,247)  x 100 % = 13,32 %

          (68,247-53,826)

Rata-rata kapasitas lapang =  11,665%

 

c.    Kadar Lengas Maksimum

Rumus : Kadar Lengas Maksimum  = (b – a) – (c – d) x 100%

                                                                     (c – d)

Kadar lengas maksimum 

= (108,807 – 40,924) – (92,000 – 51,240) x 100 % = 66,543%

                    (92,000-51,240)                      

d.   Batas Berubah Warna

Rumus : Batas Berubah Warna = (b – c) x 100%

                                                      (c – a)

Batas Berubah Warna

 U1 = (58,747 – 58,607) x 100% = 11,217%

          (58,607 – 57,359)

 U2 = ( 57,338 – 57,041) x 100% = 12,267%

          (57,041 – 54,620)

Rata-rata Batas Berubah Warna = 11,217% + 12,267% = 11,742 %

                                                                    2

2.         Jatikuwung

a.    Kadar Lengas Tanah

Rumus : Kadar lengas tanah = (b – c) x 100%

                                                  (c – a)

Kadar lengas tanah ctka 0,5 mm

U1 = (67,702-66,091) x 100%  = 12,058%

          (66,091-52,731)                 

 

U2 = (30,800-29,485) x 100%    = 12,651%

         (29,485-19,091)

Rata-rata kadar lengas tanah =  12,058% + 12,651% = 12,651 %

                                                                   2

Kadar lengas tanah ctka 2 mm

U1 = (67,858 – 66,959) x 100%  = 6,805%

          (66,959 – 53,749)

U2 = (71,403 – 70,479) x 100%  = 6,721%

          (70,479 – 56,733)

Rata-rata kadar lengas tanah = 6,805% + 6,721  = 6,763 %

                                                           2

b.    Kapasitas Lapang

Rumus : Kapasitas Lapang = (b – c) x 100%

                                                (c – a)

Kapasitas lapang

U1 = (65,570 – 62,848) x 100% = 29,76%

          (62,848 – 53,704)

U2 = (69,283 – 66,590) x 100% = 27,11%

           (66,590 – 56,660)

Rata-rata kapasitas lapang =  29,76% + 27,11%  = 28,435%

                                                            2

c.  Kadar Lengas Masksimum

Rumus  Kadar Lengas Maksimum  = (b – a) – (c – d) x 100%

                                                                    (c – d)

Kadar lengas maksimum=(102,800 – 47,187) – (80,248 – 46,656) x 100%

(80,248 – 46,656)

       = 65,55%

d. Batas Berubah Warna

Rumus : Batas Berubah Warna = (b – c) x 100%

                                                     (c – a)

 

Batas Berubah Warna

U1 = (56,370 – 56,312)  x 100%  = 8,215%

          (56,312 – 55,606)

 U2 = (19,802 – 19,744) x 100% = 8,111%

   (19,744 – 19,029)

Rata-rata Batas Berubah Warna =  8,215% + 8,111% = 8,163%

                                                                     2

3.    Jumantono

a.    Kadar Lengas Tanah

Rumus : Kadar lengas tanah = (b – c) x 100%

                                                  (c – a)

Kadar lengas tanah ctka 0,5 mm 

U1 = (69,020 – 66,147) x 100% = 20,40%

(66,147 – 52,076)

        U2 = (73,431 – 71,642) x 100% = 10,89%

          (71,642 – 55,207)

Rata-rata kadar lengas tanah = 20,40 % + 10,89% = 15,645%

                                                                2

Kadar lengas tanah ctka 2 mm U1= (72,046 – 70,309) x 100% = 12,47%

                                                           (70,309 – 56,383)

                                                  U2= (69,020 – 67,092) x 100% = 13,25%

                                                            (67,092 – 52,546)

Rata-rata kadar lengas tanah = 12,47% + 13,25% = 12,86 %

                                                               2                

b.    Kapasitas Lapang

Rumus : Kapasitas Lapang = (b – c) x 100%

                                               (c – a)

Kapasitas lapang  U1 = (65,241 –  61,994) x 100% = 34,30 %

                                        (61,994 – 52,529)

                              U2 = (64,475 – 61,387) x 100% = 33, 77 %

                                        (61,387 – 52,244)

Rata-rata kapasitas lapang =  = 34,30 % + 33,77 % = 34,035 %

                                                                  2

c.    Kadar Lengas Masksimum

Rumus : Kadar Lengas Maksimum  = (b – a) – (c – d) x 100%

                                                                  (c – d)

Kadar lengas maksimum 

=(96,881 – 53,881) – (80,312 – 49,723) x 100% = 40,573%

                  (80,312 – 49,723)

d.   Batas Berubah Warna

Rumus : Batas Berubah Warna = (b – c) x 100%

                                                       (c – a)

Batas Berubah Warna U1 = (56,871 – 56,627) x 100% = 19,07%

                                              (56,627 – 55,348)

                                   U2 =  (57,549 – 57,288) x 100% = 18,43%

                                              (57,288 – 55,873)

Rata-rata Batas Berubah Warna = 19,07% + 18,43% = 31,13 %

                                                                    2           

 

 

  1.                                                                                                                                                       V.           

     

     

    PEMBAHASAN

  1. A.    Fakultas Pertanian UNS

1.         Pencandraan Bentang Lahan

Pencandraan bentang lahan yang dilaksanakan di kampus Fakultas Pertanian UNS pada hari Sabtu, 13 Oktober 2012 pukul 13.00-15.00 WIB memiliki ketinggian 127 m dpl dan pada latitude 070 33’ 36,8” dan longitude 1100 51’ 29,9” dan pada datum WGS 1984. Pencandraan yang dilakukan meliputi cuaca, posisi, tinggi tempat, lereng, fisiologi lahan, genangan atau banjir, tutupan lahan, vegetasi, geologi, erosi, dan batuan permukaan. Dan sebagai surveyor adalah kelompok 51.

Pada saat praktikum, cuaca di lokasi dalam keadaan cerah. Lokasi ini merupakan lereng yang memiliki curam 31-60, panjang 10 m dan menghadap ke barat laut. Fisiografi lahan ini merupakan alluvial. Tutupan lahan yang terdapat adalah tutupan pohon, yaitu  > 25 % berkanopi pohon kayu berupa tanaman berdaun jarum, tanaman rawa, manggrove, dan kelapa. Di lokasi ini tidak terdapat genangan. Erosi yang terbentuk adalah erosi alur dalam tingkat yang rendah. Batuan permukaan berjumlah 0,1-3% dari luas permukaan; jarak antar batuan kecil sekitar 1 m dan antara batuan besar sekitar 3 m. Vegetasi yang terdapat di lokasi ini yaitu tumbuhan jati 30%, pohon asam 10 %, pohon mahoni 50 %, pohon bodi   5 %, pohon lamtoro 5 %.

2.       Penyidikan Profil Tanah

32

 

Profil adalah penampang melintang vertikal tanah yang terdiri dari lapisan tanah (solum) dan lapisan bahan induk. Cara pembuatan profil tanah adalah dengan membuat paprasan tanah ataupun galian yang vertikal pada tanah tersebut. Syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan pengamatan pada profil tanah antara lain profil harus tegak, baru, tidak terkena sinar matahari secara langsung, bukan daerah genangan, dan bukan daerah urugan. Untuk menentukan batas horison dapat dilakukan melalui 3 cara yaitu perbedaan warna, menusuk-nusuk tanah dengan belati dan diamati kekerasannya, serta memukul-mukul tanah dengan gagang belati dan memperhatikan perbedaan suaranya. Metode yang digunakan dalam pengamatan ini adalah metode irisan lereng.

Adapun taksonomi tanah pada wilayah adalah tanah entisols (menurut USDA), fluvisols (menurut FAO/UNESCO), dan alluvial (menurut PPT). Tanah ini memiliki geologi bahan alluvium (QAL) dengan berbahan induk dari abu vulkan, pasir, pantai atau bahan sedimen. Tanah entisols merupakan tanah yang belum berkembang dan banyak pada tanah dengan bahan induk yang sangat beragam, baik dari jenis, sifat maupun asalnya.

Pada praktikum ini yang diamati adalah profil 1. Pada profil ini terdapat tiga lapisan yaitu lapisan I, lapisan II, dan lapisan III.Lapisan I mempunyai kedalaman 0-20 cm. Kelas ketegasan batas horizon baur, dengan topografi berombak. Sedangkan untuk perakaran mempunyai ukuran halus yaitu 1 sampai < 2 mm, dan jumlahmya banyak yaitu > 5 per satuan luas.

Lapisan II dengan kedalaman 20-35 cm mempunyai perakaran yang jumlahnya sedikit , dan berukuran halus. Ketegasan batas dengan lapisan ini berangsur dan berbentuk berombak. Lapisan III mempunyai kedalaman 35-50 cm. Kelas ketegasan batas horizon berangsur, dengan topografi berombak. Sedangkan untuk perakaran mempunyai ukuran sedang yaitu 2 sampai < 5 mm, dan jumlahnya sedikit yaitu 0,2 sampai > 1 per satuan luas.

3.         Sifat Fisika Tanah

Sifat fisika tanah adalah sifat tanah yang dapat dilihat dan diamati secara fisik. Sifat fisika yang diamati pada praktikum kali ini antara lain tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, warna, penetrasi dan aerasi-draenasi. Tekstur tanah yaitu perbandingan antara fraksi-fraksi penyusun massa tanah yang meliputi lempung, debu, dan pasir. Dilapangan tekstur tanah diukur dengan menggunakan indera perasa dengan memijit tanah diantara ibu jari sambil dirasakan halus kasarnya. Metode ini bersifat subjektif. Setelah diamati, diketahui bahwa pada profil 1 ini, lapisan I teksturnya adalah lempung (C), lapisan II berupa debu (Si) dan geluh lempungan (CL) dan  lapisan III juga berupa  debu (Si) dan geluh lempunan (CL).

Struktur tanah adalah susunan ikatan partikel tanah satu dengan lainnya, atau merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah, yang diamati tipe, ukuran dan derajatnya menggunakan lup. Pada lapisan I mempunyai tipe struktur tanah dengan tipe kersai yang mempunyai ciri berbidang banyak, tidak beraturan, tidak membentuk permukaan sekeliling pedon.  Pada lapisan II juga bertipe kersai. Sedangkan lapisan III bertipe lempeng, yaitu rata dan seperti plat hirizontal.

Konsistensi tanah adalah ketahanan tanah terhadap perubahan bentuk atau perpecahan yang ditentukan oleh sifat kohesi dan adhesi dan dipengaruhi  struktur, dan bahan organik. Profil tanah yang diamati ditentukan dengan meremas massa tanah dengan telapak tangan. Lapisan I konsistensinya kering lunak, lapisan II dan III kering sangat keras.

Sifat selanjutnya yang diamati adalah warna tanah, yang merupakan ciri tanah yang paling nyata dan mudah ditentukan, dan dapat digunakan untuk menaksir tingkat pelapukan, menilai kandungan bahan organik, menaksir banyaknya kandungan mineral, menilai keadaan drainase dan melihat perbedaan horizon. Semakin gelap warna tanah maka kandungan bahan organik dalam tanah semakin tinggi pula dan juga sebaliknya. Untuk menentukan warna tanah kita gunakan Munsell Soil Colour Chart (MSCC). Warna tanah pada lapisan I sampai III berturut-turut adalah 10 YR 3/2 (very dark grayis brown), 10 YR 4/1 (drak gray), dan  10 YR 3/3 (dark brown).

Aerasi dan drainase tanah merupakan sifat tanah yang erat hubungannya dengan kemampuan tanah dalam menyediakan air dan udara. Pengamatan dilakukan dengan meneteskan HCl 1,2 N, KCNS 1N dan K3Fe(CN)6 1N. Kemudian diamati dan dibandingkan perubahan warna yang terjadi. Jika dominan merah maka aerasi – draenasinya baik. Jika dominan biru maka buruk, dan jika seimbang maka aerasi – draenasinya sedang. Setelah dilakukan pengamatan, diketahui dari lapisan I-III aerasi – draenasinya baik.

4.         Sifat Kimia Tanah

Komponen kimia dalam tanah berperan dalam penentuan sifat dan ciri tanah pada umumnya, dan kesuburan tanah pada khususnya. Sifat kimia dapat menunjukkan unsur-unsur yang tersedia dalam tanah, lanjut tidaknya perkembangan tanah dan sebagainya. Sifat kimia tanah yang diamati antara lain pH, kandungan bahan organik, kandungan kapur dan konsentrasi. pH tanah menunjukan intensitas keasaman suatu sistem tanah, sedangkan kapasitas keasaman menunjukkan takaran ion H+ terdisosiasi, ditambah H+ tidak terdisosiasi di dalam sisterm tanah.

Dalam pengamatan ini mengunakan dua larutan, yaitu larutan air bebas ion atau aquades (H2O) dan larutan KCl 1 N. Dalam hal ini menggunakan menggunakan indikator kertas pH atau pH stick yang dicelupkan pada larutan tanah, yang telah dicampur dengan larutan H2O dengan perbandingan tanah dengan air sekitar 1:2,5 hingga homogen dan didiamkan beberapa saat. Setelah itu pH stick dicelupkan, jangan sampai terkena endapannya.

Dalam uji kemasaman menggunakan dua macam pH yaitu pH H2O (pH aktual) dan pH KCl (pH potensial). pH aktual diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah. pH potensial diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah dan kompleks pertukaran ion. Semakin tinggi konsentrasi H+ maka semakin tinggi kemasaman reaksi tanah dan pH nya semakin menurun atau rendah. Pada lapisan I diperoleh pH H2O yaitu 7,31,dan pH KCl . Sedangkan pada lapisan II diperoleh pH H2O 7,4 dan pH KCl . Dan pada lapisan III pH H2O 7,1 dan KCl.

Bahan organik adalah semua sisa kehidupan yang ada di dalam tanah. Jumlah ditentukan dengan pengamatan mata terhadap warna kelam hitam dan ada tidaknya bahan organik yang lapuk. Kandungan bahan organik di lapisan I dan II sedikit.Dan pada lapisan III banyak.

5.         Analisis Lengas Tanah

Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum analisis lengas tanah  diperoleh hasil sebagai berikut; kadar lengas tanah kering angin rata-rata untuk ctka ø 2 mm sebesar 9,06% dan untuk ctka ø 0,5mm sebesar 9,43%. Sedangkan untuk kapasitas lapangan, kadar lengas rata-rata yang diperoleh  sebesar 11,665%. Dan untuk lengas maksimum, kadar lengas rata-rata yang diperoleh 66,543 %. Untuk batas berubah warna kadar lengas rata-rata diperoleh sebesar 11,742 %. Nilai batas berubah warna tersebut termasuk dalam harkat sedang, yaitu antara 11-18%.

6.         Analisis pH Tanah

Dalam pengamatan ini mengunakan dua larutan, yaitu larutan air bebas ion atau aquades (H2O) dan larutan KCl 1 N. Dalam hal ini menggunakan menggunakan indikator pH meter yang dicelupkan pada larutan tanah, yang telah dicampur dengan larutan H2O dengan perbandingan tanah dengan air sekitar 1:2,5. hingga homogen dan didiamkan beberapa saat. Setelah itu pH meter dicelupkan, jangan sampai terkena endapannya.

Dalam uji kemasaman menggunakan dua macam pH yaitu pH H2O (pH aktual) dan pH KCl (pH potensial). pH aktual diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah. pH potensial diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah dan kompleks pertukaran ion. Semakin tinggi konsentrasi H+ maka semakin tinggi kemasaman reaksi tanah dan pH nya semakin menurun atau rendah. Pada tanah entisol kering angin diperoleh pH H2O yang sama yaitu 6,52 dan pH KCl 5,86.

 

 

 

  1. B.    Jatikuwung
  2. 1.         Pencandraan Bentang Lahan

Praktikum lokasi pertama dilaksanakan di Jatikuwung, Mojosongo pada hari Sabtu, 13 Oktober 2012 pukul 07.00-09.00 WIB. Pengamatan pencandraan bentang lahan dengan cara pengidentifikasian lahan yang dilaksanakan di Jatikuwung pada saat cuaca ini terletak pada 70 31’ 084” LS dan 1100 50’ 720” BT pada datum WGS 1984. Praktikum dilakukan pada profil 4 dengan tinggi tempat 169 m dpl, dan mempunyai arah hadap sebesar 8o dari barat. Dan sebagai surveyor adalah kelompok 51.

Fisiografi lahan di Jatikuwung yaitu vulkanik yaitu hasil aktivitas/endapan materi gunung berapi. Kemiringan lereng 15% (agak miring). Di lokasi ini genangan setinggi 0,01 m dengan durasi ekstrim singkat dan jarang terjadi. Tutupan yang ada yaitu tutupan semak, > 50% semak belukar atau kanopi menjalar berupa arbei, tanaman obat, anggur, dan semak lainnya. Erosi yang terjadi merupakan erosi permukaan/lebar. Dan terdapat batuan permukaan jumlahnya 0,1-3% dari luas permukaan; jarak batuan kecil sekitar 1 m dan antara batuan besar sekitar 3 m. Sedangkan vegetasi yang terdapat disana meliputi pohon jati 50%, semak/rumput 25%, pohon mangga 5%, pohon lamtoro 5%, kemangi 5%, dan tanaman berbunga 10%.

  1. 2.         Penyidikan Pedon  Tanah

Taksonomi tanah di Jatikuwung  ini adalah tanah vertisols. Tanah ini memiliki geologi QVM. Penyidikan profil tanah di Jatikuwung menggunakan metode observasi irisan lereng. Jeluk lapisan A0-20 cm, lapisan dan lapisan C 20-60 cm. Batas ketegasan dan topografi horison untuk semua lapisan mulai yaitu  jelas dan tak beraturan. Jumlah perakaran lapisan Asedikit dengan ukuran yang halus. Sedangkan lapisan C tidak ada.

 

  1. 3.         Sifat Fisika Tanah

Sifat Fisika tanah yang diamati adalah tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, warna,  aerasi–drainase, permeabilitas dan Penetrometer. Tekstur tanah pada obyek pengamatan berbeda–beda untuk lapisan tanahnya. Penentuan tekstur tanah dilakukan dengan cara meraba/memirit tanah/sampel tanah tiap lapisan/horizon pada profil yang terlebih dulu dibasahi dengan akuades. Untuk lapisan Abertekstur debu dan geluh lempungan, sedangkan lapisan C bertekstur pasir yang sangat kasar sekali, tidak membentuk bola dan gulungan serta tidak melekat.

Struktur tanah adalah bentukan yang terjadi secara alami yang tersusun oleh partikel-partikel tanah menjadi agregat tanah hasil dari proses pedogenesis. Untuk lapisan A dan C mempunyai  tipe struktur yang kersai. Lapisan A memiliki ukuran kasar dan derajad yang sedang. Sedangkan lapisan C memiliki ukuran struktur yang halus dengan derajad yang kuat. Lapisan A berwarna 10 R3/1 dengan memiliki konsisitensi keras. Lapisan C berwarna 2,5 YR 8/3 dan memiliki konsisitensi sangat keras. Aerasi dan drainasi diukur dengan metode reaksi reduksi dan oksidasi yang terjadi pada tanah. Untuk semua lapisan dari profil 4 mempunyai aerasi dan draenasi yang baik.

  1. 4.         Sifat Kimia Tanah

Sifat kimia tanah yang diamati dalam praktikum yaitu pH, bahan organik, kadar kapur, dan konsentrasi tanah. Untuk pengamatan pH dilakukan pengamatan pH H2O, dan pH KCl. Untuk pH H2O pada lapisan A adalah 7 yang berarti netral dan pH KCLnya 6,2 yang berarti agak masam. Pada lapisan C pH H2O 7,2 yang berarti netral, dan pH KCLnya 5,8 yang berarti masam.

 Pada pengamatan kimia tanah juga diamati bahan organik yang terkandung dalam tanah. Bahan organik adalah akumulasi seresah tumbuhan dan hewan yang telah mati dan dirombak oleh jasad hidup/mikroba tanah. Jumlah bahan organik ditentukan dengan menetesi sampel tanah dengan H2O2 10 %. Pada pengamatan diketahui bahwa pada lapisan A bahan organiknya banyak, sedangkan pada lapisan C tidak ada.

Kadar kapur ditentukan dengan cara menetesi sampel tanah dengan HCL 10%. Dari hasil percobaan didapatkan hasil bahwa lapisan A kadar kapurnya sedikit, sedangkan pada lapisan C sangat sedikit. Lapisan A dan lapisan C konsentrasinya tidak ada. Hal ini dikarenakan unsur hara pada lapisan A lebih banyak dibanding pada lapisan C.

  1. 5.         Analisis Lengas Tanah

Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum analisis lengas tanah  diperoleh hasil sebagai berikut; kadar lengas tanah kering angin rata-rata untuk ctka ø 2 mm sebesar 6,763% dan untuk ctka ø 0,5 mm sebesar 12,354%. Sedangkan untuk kapasitas lapangan, kadar lengas rata-rata yang diperoleh  sebesar 28,435%. Dan untuk lengas maksimum, kadar lengas rata-rata yang diperoleh 65,55%. Untuk batas berubah warna kadar lengas rata-rata diperoleh sebesar 8,163%. Nilai batas berubah warna tersebut termasuk dalam harkat rendah, yaitu antara 4-10%.

  1. 6.         Analisis pH Tanah

pH tanah menunjukan intensitas keasaman suatu sistem tanah, sedangkan kapasitas keasaman menunjukkan takaran ion H+ terdisosiasi, ditambah H+tidak terdisosiasi di dalam sisterm tanah. Ion –ion yang dapat dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial ini dapat di tentukan dengan titrasi tanah. Ion –ion H+, bebas menciptakan kemasaman aktif diukur dan dinyatakan sebagai pH tanah.tipe kemasaman inilah yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

Dalam pengamatan ini mengunakan dua larutan, yaitu larutan air bebas ion atau aquades (H2O) dan larutan KCl 1 N. Dalam hal ini menggunakan menggunakan indikator pH meter yang dicelupkan pada larutan tanah, yang telah dicampur dengan larutan H2O dengan perbandingan tanah dengan air sekitar 1:2,5. hingga homogen dan didiamkan beberapa saat. Setelah itu pH meter dicelupkan, jangan sampai terkena endapannya.

Dalam uji kemasaman menggunakan dua macam pH yaitu pH H2O (pH aktual) dan pH KCl (pH potensial). pH aktual diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah. pH potensial diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah dan kompleks pertukaran ion. Semakin tinggi konsentrasi H+ maka semakin tinggi kemasaman reaksi tanah dan pH nya semakin menurun atau rendah. Pada tanah vertisol kering angin diperoleh pH H2O yang sama yaitu 6,5345 dan pH KCl 6,139.

 

 

  1.  
    1. C.      Jumantono
      1. 1.         Pencandraan Bentang Lahan

          Praktikum Ilmu Tanah ini dilaksanakan di Desa Sukosari, Jumantono, Karanganyar, pada hari Minggu, 14 Oktober 2012 pukul 08.30-10.30 WIB. Dan sebagai surveyor adalah kelompok 51. Dengan ketinggian tempat 196 m dpl. Dengan latitude 70 30’ 50,1” dan longitude 1100 56’ 50,1”  pada datum  WGS 1984 saat cuaca cerah. Dari hasil praktikum diketahui bahwa fisiografi lahannya adalah miscellaneous. Untuk kemiringan lahan atau lereng yaitu 8% yang berarti agak miring.

Kemiringan lereng diukur dengan menggunakan klinometer. Arah hadap lokasi ini 300o dari arah barat laut. Maksud dari penentuan arah hadap mengetahui intensitas matahari yang mempengaruhi pembentukan tanah, karena dapat mempengaruhi pelapukan. Sedangkan panjang lereng 8 meter. Pada lokasi ini tidak terjadi genangan jenis tutupan lahannya adalah tutupan tanaman.

Lokasi ini dalam geologi QVL. Erosi yang terjadi permukaan/lembar dalam tingkat yang rendah. Batuan permukaan yang ada berjumlah <0,1% dari luas permukaan;jarak antar batuan kecil >8 m dan antar batuan besar sekitar 20 m. Vegetasi yang terdapat di lokasi ini adalah pohon jagung 10%, pohon singkong 10%, pohon jati 30%, pohon mangga 40, pohon rambutan 10%.

  1. 2.         Penyidikan Profil Tanah

Pencandraan profil tanah adalah suatu usaha penggambaran penampang lintang tubuh tanah dalam bentuk tulisan atau notasi. Pencandraan profil tanah ini merupakan langkah pokok untuk mendapatkan keterangan secara utuh mengenai aneka gatera tubuh tanah, yang dapat digunakan sebagai landasan untuk pengklasifikasinya atau sebagai acuan pengambilan keputusan untuk pengelolaannya. Penyidikan profil tanah dapat dibuat dengan cara menggali lubang atau mengiris tanah yang tidak terkena cahaya matahari. Batas tiap lapisan dapat diketahui dengan melihat perbedaan warna atau mendengar perbedaan bunyi tiap bagian tanah. Untuk mendengar bunyi tiap lapisan tanah, kita dapat memukul-mukul tanah dengan gagang pisau belati.

                 Adapun taksonomi tanah pada wilayah ini adalah tanah alfisols (menurut USDA), ferasols (menurut FAO/UNESCO), dan latosols (menurut PPT). Penyidikan profil tanah di Jumantono menggunakan metode observasi lubang besar terbuka atau galian. Jeluk lapisan A0-12 cm, lapisan B112-42 cm, lapisan B242-65 cm, lapisan B3 65-90 cm, lapisan B4 90-110 cm. Ketegasan batas lapisan A berangsur, B1 baur, B2 baur, B3 baur, dan B4 juga baur. Topografi batas horison untuk lapisan A berombak, lapisan B1 rata, lapisan B2 berombak, lapisan B3 rata, lapisan B4 juga rata. Jumlah perakaran lapisan Abanyak, pada lapisan B1 biasa, dan pada lapisan B2, B3, 4 sedikit. Untuk ukuran perakaran pada lapisan Ahalus, yaitu antara 1 sampai < 2 mm, sedangkan pada lapisan B1, B2, B3, B4 sangat halus yaitu < 1 mm.

  1. 3.         Sifat Fisika Tanah

Pada pembahasan sifat fisika tanah, yang diamati adalah tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, aerasi drainase, warna, dan uji penetrometer/ penetrasi.Tekstur tanah merupakan perbandingan relatif tiga golongan besar partikel tanah yang terdiri dari pasir, lempung dan debu dalam suatu massa tanah. Untuk menentukan tekstur tanah dilapang yaitu dengan cara menggosok-gosokan tanah diantara ibu jari dan telunjuk/jari lainnya, yang sebelumnya ditetesi air terlebih dahulu. .

Pada pengamatan tanah ini, tekstur tanah yang didapat pada tiap lapisan berbeda-beda. Pada lapisan A dan lapisan B1 adalah lempung pasiran, yang bercirikan rasa licin agak kasar, membentuk bola dalam keadaan kering sukar dipijit, mudah digulung, serta melekat sekali. Pada lapisan B2, B3, B4 memiliki tekstur lempung yang bercirikan rasa berat, membentuk bola sempurna, bila kering sangat keras, sangat melekat.

Tipe struktur tanah yang terlihat pada pengamatan, yaitu pada lapisan A, B1, B4 memiliki tipe struktur gumpal membulat dengan ciri berbidang banyak, bidang muka saling berpotongan membentuk sudut membulat. Sedangkan pada lapisan B2 dan B3 memiliki tipe struktur gumpal menyudut yang bercirikan berbidang banyak, bidang muka saling berpotongan membentuk sudut lancip. Ukuran struktur tanah menurut bentuknya pada lapisan A, B1,B4 sangat halus, pada lapisan B2 dan B3 halus. Untuk derajad kekerasan struktur tanah pada lapisan A lemah, pada lapisan B1, B2, B3, B4 sedang.

Konsistensi tanah pada pengamatan tanah kali ini, untuk lapisan A memiliki konsistensi tanah  kering lunak. Pada lapisan B1, B2, B3, B4mempunyai konsistensi yang agak keras.

Aerasi dan drainasi tanah merupakan sifat tanah yang erat hubungannya dengan kemampuan tanah dalam menyediakan air dan udara.  Pengukuran tingkat aerasi dan drainase dilakukan dengan metode reaksi reduksi dan oksidasi yang terjadi pada tanah. Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa tanah di lokasi ini memiliki aerasi drainase baik.

Pengidentifikasian warna tanah menggunakan buku Munsell Soil Color Chart (MSCC). Untuk lapisan A warna yang ditunjukkan 5 YR 3/3 dark redisk brown, lapisan B1 5 YR ¾ dark redisk brown,lapisan B2 5 YR 3/3, lapisan B3 5 YR 3/2 dark redisk brown, lapisan B4 5 YR 3/3 dark redisk brown .

  1. 4.         Sifat Kimia Tanah

Pada praktikum kali ini sifat kimia yang diteliti adalah pH tanah, bahan organik, kapur dan konsentrasi pada tiap-tiap lapisan tanah. Penentuan pH pada praktikum ini dengan menggunakan pH stick (pH aktual dan pH potensial). pH aktual dianalisis dengan mencampur tanah dengan air (H2O) dengan perbandingan 1: 2,5. Dari hasil pengamatan maka didapat pH H2O pada lapisan A1 sebesar 6, pada lapisan A2 sebesar 5, dan pada lapisan A3 sebesar 5. Untuk pH KCl pada horison A1 sampai horison A3 sama yaitu sebesar 5. Dari hasil yang didapat maka tingkat keasaman tanah adalah cukup asam. Untuk tanah yang di campuri H2O, pH  > daripada dicampuri KCl karena H2O bersifat netral dan KCl bersifat asam (pH rendah).

Selain penentuan pH pada pengamatan kali ini juga mengamati jumlah bahan organik (BO) secara kualitatif, yaitu dengan cara mengamati buih yang timbul setelah ditetesi dengan H2O2 10 % . Pada praktikum kali ini didapat buih yang dihasilkan pada tiap – tiap lapisan berbeda.

  1. 5.         Analisis lengas Tanah

Di dalam pertumbuhan tanaman juga perlu diketahui keadaan air tanah atau lengas tanah sehingga perlu ditetapkan kadar air tanah pada beberapa keadaan, antara lain kadar air total, kapasitas lapang, titik layu permanen.

Dari percobaan lengas tanah kering angin didapat kadar lengas rata-rata untuk ctka ø 2mm sebesar 12,86%, sedangkan untuk ctka ø 0,5mm sebesar 15,645%.Pada kapasitas lapangan kadar lengas yang terkandung 34,035%. Sedangkan pada lengas maksimum terkandung kadar lengas sebesar 40,573% dan pada batas berubah  warna kurang lebih 18,75%.

  1. 6.         Analisis pH Tanah

pH tanah menunjukan intensitas keasaman suatu sistem tanah, sedangkan kapasitas keasaman menunjukkan takaran ion H+ terdisosiasi, ditambah H+ tidak terdisosiasi di dalam sisterm tanah.Dalam pengamatan ini mengunakan dua larutan, yaitu larutan air bebas ion atau aquades (H2O) dan larutan KCl 1 N. Dalam hal ini menggunakan menggunakan indikator pH meter yang dicelupkan pada larutan tanah, yang telah dicampur dengan larutan H2O dengan perbandingan tanah dengan air sekitar 1:2,5 hingga homogen dan didiamkan beberapa saat. Setelah itu pH meter dicelupkan, jangan sampai terkena endapannya.

Dalam uji kemasaman menggunakan dua macam pH yaitu pH H2O (pH aktual) dan pH KCl (pH potensial). pH aktual diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah. pH potensial diukur dengan cara mengukur jumlah ion H+ dalam larutan tanah dan kompleks pertukaran ion. Semakin tinggi konsentrasi H+ maka semakin tinggi kemasaman reaksi tanah dan pH nya semakin menurun atau rendah karena tinggi konsentrasi H+ itu tinggi juga kandungan asam atau pHnya rendah berbeda jika kandungan OH tinggi maka kandungan basanya tinggi atau pHnya tinggi. Pada tanah kering angin diperoleh pH H2O yang sama yaitu 5,8275 dan pH KCl 4,803.

 

 

 

  1.                                                                                                                                          VI.           

     

     

    KOMPREHENSIF

Pengamatan yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah meliputi pencandraan bentang lahan, penyidikan profil tanah, sifat fisika tanah, sifat kimia tanah, analisis lengas tanah, dan analisis pH tanah.  Keempat hal yang diamati ini tentu mempunyai hubungan antara satu dengan yang lain. Pengamatan pencandraan bentang lahan yang meliputi keadaan medan atau fisiografi lahan dapat mempengaruhi aerasi dan drainase. Aerasi dan drainase semakin kebawah semakin buruk. Sedangkan kemiringan lahan akan berpengaruh pada proses pembentukan tanah yang akhirnya akan ikut menentukan sifat – sifat tanah itu sendiri. Kemiringan yang berpengaruh pada sifat bahan induk dan taraf erosi yang terjadi. Untuk mencegah terjadinya erosi yang berlebihan pada daerah ini maka timbul timbulan makro dibentuk berupa sengkedan.

Lahan di Fakultas Pertanian dengan ketinggian 127 m dpl ini memiliki jenis tanah entisol dengan bentuk lahan alluvial, yang terletak antara Gunung Lawu dan sungai Bengawan Solo. Adanya sengkedan merupakan bukti adanya campur tangan manusia terhadap tanah, yang menyebabkan erosi tanah yang  terjadi adalah erosi alur dalam tingkat yang sedang. Kondisi lahan yang bebas banjir terkait oleh adanya sengkedan yang berpengaruh pula genangan yang sifatnya bebas, karena apabila ada air dalam kapasias besar, maka air akan dengan mudah mengalir kebawah. Erosi yang bersifat sedang adanya batuan permukaan dalam kelas 2. Dari penyidikan profil, diketahui solum tanahnya termasuk dangkal. Jenis vegetasi yang terdapat adalah jati, asam, mahoni, bodi, lamtoro.

47

 

Tanah di Jatikuwung merupakan tanah vertisol yaitu tanah mineral yang mempunyai perkembangan profil, agak tebal (> 50 cm), tekstur lempung berat, struktur di lapisan atas gumpal hingga kersai (granular)  di lapisan bawah, konsistensi bila lembab dan plastis, bila kering sangat keras dan tanah retak-retak, umumnya bersifat alkalis, kejenuhan basa, dan kapasitas absorpsi tinggi, permeabilitas lambat dan peka erosi. Hal ini mengakibatkan tanah ditempat yang lebih tinggi menjadi bergelombang dan didataran membentuk bukit – bukit kecil yang cembung. Jenis ini berasal dari batu vulkanik gunung merapi bersifat basa. Mempunyai jenis lempung berupa montmorilonit lempung dengan tipe kaolinit 2:1 yang dapat mengembang dan mengerut. Sehingga lahan mempunyai daya adsorbsi tinggi. Dan memiliki jenis vegetasi berupa rumput, pohon jati, mangga, lamtoro, kemangi, tanaman berbunga.

Dari hasil pengamatan pada lahan di daerah Jumantono, jenis tanahnya merupakan tanah alfisol yaitu jenis tanah yang telah berkembang atau terjadi diferensiasi horizon, kedalaman dalam,  konsistensi gembur hingga agak teguh, warna coklat merah hingga kuning. Berasal dari batuan induk aluvial, tekstur beraneka ragam pada umumnya berlempung, terbentuk struktur gumpal, konsistensi dalam keadaan lembab gembur hingga teguh, kesuburan sedang hingga tinggi. Tanah yang diamati termasuk tanah yang sudah mengalami pelapukan yang lanjut karena tidak ditemukannya retakan atau bunga kol, karena daerah tersebut banyak mengandung lempung dengan tipe kaolinit 1:1 yang tidak bersifat mengembang dan mengerut. Jenis vegetasi berupa kacang tanah, jagung, semak, pohon jati, singkong, mangga, dan lainnya.

Sifat-sifat alfisol, memiliki horison argilik dan terdapat di kawasan yang tanahnya lembab paling sedikit dalam setengah tahun. Kebutuhan akan kejenuhan basa lebih dari 35% di dalam horison argilik alfisol berarti bahwa basa-basa yang terlepas karena terurai. Iklim yang menguntungkan dan tanah dengan kesuburan serta sifat fisika yang agak baik menjadikan alfisol salah satu ordo tanah yang paling produktif untuk pertanian.

Dapat dikatakan semua profil tanah memperlihatkan perubahan warna dari suatu horison berikutnya. Tampakan ini paling nyata dalam tanah matang. Dalam tanah muda dan yang sangat tua tampakan seperti ini kurang nyata. Dalam tanah muda, waktu belum mencukupi untuk menghasilkan deferensiasi horison. Dalam tanah sangat tua, diferensiasi horison menghilang karena perlindian dan pelapukan yang telah sangat lanjut yang cenderung menyamaratakan tampakan diseluruh profil.

Konsistensi berkaitan erat dengan struktur. Faktor – faktor yang menentukan struktur tanah, seperti tekstur, macam – macam lempung dan kadar bahan organik juga ikut menentukan konsistensi tanah. Tanah bertekstur sama dapat berbeda konsistensinya karena berbeda macam lempungnya.

Untuk kesuburannya tanah alluvial baik karena daerah dengan fisiologi tanah alluvial mempunyai daerah yang luas dan terdapat disepanjang aliran sungai. Selain itu tanah alluvial juga sangat produktif dan tingkat aerasi – drainasenya yang baik, sehingga tanah jenis ini sangat baik untuk pertanian. Untuk kesuburan tanah alfisol agak baik karena tanah ini merupakan tanah tua yang telah lama mengalami pelapukan dan memiliki sifat fisika tanah yang baik pula. Untuk kesuburan tanah vertisol ini relatif rendah karena merupakan tanah dengan kandungan BO relatif rendah. Jadi tanah ini kurang baik untuk pertanian karena mengandung lempung dimana lempung dapat menahan air yang diterimanya dari lapisan diatasnya, karena susunan partikel tanah lempung yang teguh sehingga tanah jenis ini susah untuk meloloskan air kelapisan yang ada dibawahnya.

 


 

  1.                                                                                                                                                  VII.           

     

     

    KESIMPULAN

A.      Fakultas Pertanian UNS

1.       Fisiografi lahan  di kampus fakultas pertanian terletak diantara Gunung Lawu dan aliran sungai Bengawan Solo dengan kondisi bentuk batuan induk alluvial yang berkembang.

  1. Erosi yang terjadi adalah erosi alur dengan tingkat sedang.
  2. Lahan berupa tanah entisol dengan warna hitam-coklat, dengan vegetasi jati, asam, mahoni, bodi, lamtoro mampu bertahan pada lingkungan kering.
  3. Profil tanah yang dibuat terdiri dari 3 lapisan di horison A.
  4. Tekstur tanah adalah pasir dengan perbandingan antara debu, pasir dan lempung lebih banyak pasirnya, dengan struktur, ukuran dan derajat yang bervariasi.
  5. Konsistensi tanah dari lapisan atas ke bawah semakin keras.
  6. Aerasi-drainase tanah semua lapisan sama yaitu baik.
  7. Tanah lahan lokasi 1 ini merupakan tanah yang bersifat netral dan agak alkalis.
  8. Kandungan bahan organiknya sedikit, sedangkan kandungan kapurnya sangat sedikit.
  9. Konsentrasi tidak ditemukan

B.       Jatikuwung

  1. Lahan di desa jatikuwung merupakan tanah vertisol dengan fisiologi lahan up lift antara pegunungan vulkanik dan sungai  yaitu Gunung api merapi.
  2. Lahan ini memiliki kemiringan 15 % (agak miring). Mengalami erosi permukaan dengan taraf yang rendah. Batuan permukaan maupaun masuk dalam kelas 2.
  3. 50

     

    Ketegasan batas horison pada lapisan semua sama yaitu jelas dan topografinya pada semua lapisan tak beraturan.

  1. Tanah ini mempunyai tekstur  tanah debu dan geluh lempungan untuk lapisan A, sedangkan lapisan C pasir.
  2. Kandungan akar yang terdapat pada tiap lapisan berkurang dari lapisan yang teratas sampai terbawah yaitu dari yang sangat banyak sampai sedikit dengan ukuran dari sedang sampai sangat halus.
  3. Konsistensi pada lahan  ini bersifat keras dan sangat keras.
  4. Aerasi dan draenasi pada lahan pengamatan tergolong sedang.
  5.   Konsentrasi pada lahan tidak ada.
    1. Bahan organik pada lapisan A banyak. Sedangkan lapisan C tidak ada.
    2. Kandungan kapur untuk lapisan A sedikit, sedangkan pada lapisan C sangat sedikit.

C.      Jumantono

  1. Fisiografi lahan di wilayah pengamatan yaitu terletak diantara pegunungan     vulkanik dan aktivitas fluvial dengan keadaan geologi lahan berupa formasi vulaknik dan bahan induknya batuan vulkanik.
  2. Erosi yang terjadi adalah erosi permukaan dengan tingkat rendah.
  3. Lahan berupa tanah alfisol dengan warna hitam-coklat, dengan vegetasi berupa kacang tanah, jagung, singkong, jati, mangga, rambutan, dan tanaman lainnya yang mampu bertahan pada lingkungan kering.
  4. Profil tanah yang dibuat terdiri dari lima lapisan di horison A, horison B1, horison B2, horison B3, horison B4.
  5. Konsistensi tanah dari lapisan atas ke bawah semakin keras.
  6. Daya topang semakin kebawah semakin kuat. Maka tanah ini dikatakan cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor.
  7. Warna tanah semakin ke lapisan atas akan semakin gelap karena pengaruh bahan organik yang jumlahnya semakin ke atas juga semakin banyak.
  8. Tekstur tanah erat hubunganya dengan struktur tanah, konsistensi tanah dan bahan organik.
  9. Kandungan kapurnya tidak ada.
  10. Warna tanah semakin ke lapisan atas akan semakin gelap karena pengaruh bahan organik yang jumlahnya semakin ke atas juga semakin banyak.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah 2003. Survai Tanah dan evaluasi Lahan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Ahmat 2006.Kekerasan Tanah dan Serapan Hara Tanaman Jagung Pada Olah Tanah Konservasi Jangka Panjang.Tahun 1.  Jurnal Tanah Tropika No.12 Volume 3. Jurusan Ilmu Tanah Faperta Universitas Lampung. Lampung.

Anonima 2007. Petunjuk Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian UNS. Surakarta.

Anonimb2010.PermeabilitasProfilTanah.http://rimbaraya.blogspot.com/2005/05/permeabilitas-profil-tanah.html.Diakses tanggal 28 Oktober 2012

Anonimc 2010. Tanah entisol. http://semangatgeos.blogspot.com/2011/11/tanah-entisol.html. Diakses      27 Oktober 2012.

 Anonimd 2007. Tentang pH Tanah. http://nglithis.wordpress.com/2007/04/24/7/

Diakses tanggal 27 Oktober 2012.

 Anonime 2005. Kadar Lengas Tanahi lmutanahuns.files.wordpress.com/2009/02/kadar-lengas-tanah.pdf.

Diakses tanggal 27 Oktober 2012

Anonimf 2010. Mengukur pH Tanah dan Kebutuhan Kapur.  http://kapurpertanian.com/index.php/Berita-Terbaru/Mengukur-pH-tanah-dan-kebutuhan-kapur.html. Diakses tanggal 28 Oktober 2012.

Anonimg 2010.Tanah Vertisol. https://wahyuaskari.wordpress.com/literatur/tanah-vertisol/. Diakses tanggal 28 Oktober 2012.

Anonimh 2010. Kemasaman Tanah (pH Tanah). http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html. Diakses tanggal 30 Oktober 2012

Anonimi 2011. Kemasaman Tanah (pH Tanah).http://www.silvikultur.com/Kemasaman_Tanah_pH.html. Diakses tanggal 30 Oktober 2012

 Anonimj 2007. Konservasi Tanah. http://id.wikipedia.org/wiki/Konservasi_tanah.           

Diakses tanggal 30 Oktober 2012

Bailey 2001. Pengantar ilmu Tanah. Rineka Cipta. Jakarta.

Bridges 2001. Jenis Tanah Menurut Para Ahli. http://www.silvikultur.com/Jenis Tanah_pH.html. Diakses tanggal 30 Oktober 2012

Darmawijaya M Isa 2000. Klasifikasi Tanah. Universitas Gajah Mada Press. Yogyakarta.

Hakim Nurhayati et al. 2003.  Dasar – Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.

Handayani 2009. Dasar-Dasar Klasifikasi Tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.

Herlina 2011. Mengetahui Kesuburan Tanah Vs Pemupukkan. http://ditjenbun.deptan.go.id/benihbun/benih/index.php?option=com_content&task=view&id=178&Itemid=26. Diakses tanggal 27 Oktober 2012.

Hillel 2000. Klasifikasi Tanah. http://id.wikipedia.org/wiki/Klasifikasi_tanah.           

Diakses tanggal 29 Oktober 2012

Ikhwan,2011.DasarDasaIlmuTanah.http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2008/02/definisi-tanah-fungsi-dan-profil-tanah.html.Diakses pada 27 Oktober 2012.

Kartosapoetro 2001. Skrening Kendala Keharaan Tan Kacang Tanah di Tanah Latosol. Sains Tanah Jurnal Penelitian Tanah dan Agroklimatologi. Vol.1. Program Studi Ilmu Tanah Jurusan Budidaya Tanaman Faperta Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Syarief. 1979. Ilmu Tanah Umum. FP. UNPAD. Bandung.

Maas 2001. Survai Tanah dan Evaluasi Lahan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Marbut 2002. Ilmu Tanah. Bhatara Karya Aksara. Jakarta.

Masganti 2003. Kesuburan Tanah. Rineka Cipta. Jakarta.

Munir 2001. Tanah-Tanah Utama Indonesia. PT Dunia Pustaka Jaya. Jakarta.

Notohadiprawiro Tejoyuwono. 2000. Tanah dan Lingkungan. Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Departemen P dan K. Jakarta.

Santoso 2005. Pertanian Organik Menuju Pertanian Alternatif Berkelanjutan. Kanisius.Yogyakarta.

Sanchez 2002. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika. ITB. Bandung

Soil survey staff 2000. Survai Tanah dan Evaluasi Lahan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suradji 2009. Ilmu Tanah. Bhatara Karya Aksara. Jakarta.

Sutono 2001. Petunjuk Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian UNS. Surakarta.

Susanto 2002. Perkembangan Tanah.  http://perkembangan tanah.blogspot.com/2008/02/definisi-tanah-fungsi-dan-profil-tanah.html. Diakses pada 27 Oktober 2012.

Rujiter Agus 2008. Pengenalan Tanah. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2008. Diakses tanggal 27 Oktober 2012.

 

 

Standard